maxwin138
maxwin138
maxwin138
maxwin138

Misteri Masjid Berusia 400 Tahun di Wonogiri, Simpan Buku Kuno yang Tak Boleh Difoto

Misteri Masjid Berusia 400 Tahun di Wonogiri, Simpan Buku Kuno yang Tak Boleh Difoto
0 0
Read Time:2 Minute, 34 Second


Wonogiri

Di Wonogiri, ada sebuah masjid unik yang konon berusia 400 tahun. Di masjid ini tersimpan kitab-kitab kuno yang konon tidak boleh difoto. Inilah ceritanya:

Masjid ini bernama Sabiilul Muttaqin atau masyarakat setempat mengenalnya sebagai Masjid Tiban Gunung Cilik. Lokasinya di Dusun Pakem, Desa Sumberagung, Kecamatan Pracimantoro Wonogiri.

Masjid Tiban Gunung Cilik memiliki cerita sejarah yang panjang. Masjid ini dianggap sebagai bukti sejarah penyebaran Islam di Wonogiri Selatan.

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN KONTEN

Dinamakan Masjid Tiban Gunung Cilik karena masjid ini terletak di atas bukit kecil yang terletak di tengah Dusun Pakem. Orang menyebut bukit kecil ini dengan nama Gunung Kecil.

Takmir Masjid Sabiilul Muttaqin, Sutomo mengatakan, keberadaan Masjid Tiban Gunung Cilik diyakini sudah ada sejak 400 tahun lalu, sekitar tahun 1600-an. Saat itu di Pakem hanya ada delapan rumah yang terletak di sebelah selatan masjid. Warga melakukan aktivitas seperti biasa, bertani dan beternak.

“Dulu semua terisolasi, tapi itu aktivitas biasa. Sehingga suatu hari warga langgar (masjid kecil) melihat sesuatu di puncak Gunung Cilik. Setelah mengunjunginya, ternyata memang ada masjid, kata Sutomo, akhir pekan lalu.

Salah satu benda keramat di masjid tersebut adalah sebuah kitab kuno yang diyakini berusia ratusan tahun. Sutomo mengatakan, 2 kitab kuno tersimpan di masjid ini.

Buku itu disimpan oleh para tetua desa secara turun-temurun. Akhirnya sekitar tahun 1989-1990, Sutomo dititipkan oleh pamannya untuk membawa sebuah buku. Sutomo membawa buku itu selama 6 tahun. Hingga akhirnya kitab tersebut disimpan di mesjid atas permintaan sesepuh desa.

Dua buku yang disimpan di masjid berwarna kuning dan dibaca dalam bahasa Arab. Buku itu terbuat dari kulit binatang dan ditulis dengan tangan.

Adapun isi kitab, tulisan Al-Qur’an, bacaan tahlil dan mujarobat. Karena ada beberapa simbol yang ditulis dalam bahasa Arab.

Berdasarkan cerita leluhur, kata Sutomo, buku itu pernah dipinjam oleh seorang Wedana, mantan bupati. Itu dipinjam pada siang hari dan dibawa pulang.

Tetapi pada malam hari buku itu dikembalikan lagi. Pasalnya, wedana tersebut diperintah oleh seseorang untuk segera mengembalikan kitab tersebut ke tempatnya.

Kitab Suci Kuno Tidak Bisa Difoto

Menurut Sutomo, buku itu juga dilarang difoto dengan kamera apapun. Saat buku tersebut dipindahkan dari masjid lama ke masjid baru, Sutomo meminta seseorang untuk mengambil foto dengan ponselnya saat membuka buku tersebut.

Setelah mengambil foto, sang fotografer melihat sesosok makhluk datang ke rumahnya. Setelah itu bayi atau anak kecil menangis di rumah.

“Jadi saat itu kami dapat menyimpulkan bahwa buku ini tidak boleh difoto. Karena setelah foto dihapus, bayi tersebut diam dan berhenti menangis. Ada beberapa orang yang nekad mengambil foto tapi juga terjadi kejadian yang tidak wajar,” terangnya. . .

Selain itu, lanjut Sutomo, buku tersebut tidak boleh digandakan. Terkadang seseorang ingin membuat fotokopi. Namun hasilnya berupa fotokopi hitam yang tidak jelas. Selain itu, mesin fotokopi juga rusak.

“Banyak orang pintar yang meminta saya untuk membuktikan kehebatan buku dengan cara yang berbeda-beda. Tapi saya tidak mau. Ya intinya tidak semua orang mengalami hal yang tidak wajar, hanya sebagian (kecil) saja,” ujar Sutomo

—-

Artikel ini pernah tayang di detikJateng dan selengkapnya bisa dibaca di sini.

Simak Video “Melihat Sejarah dan Al-Qur’an dari Daun Kelapa di Matraman”
[Gambas:Video 20detik]
(www www)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Harold Taylor

Learn More →